Jumat, 07 November 2014

CERITA SEX - PENGALAMAN SEX DUKUHSETI TAYU PATI JAWA TENGAH

Mungkin belum banyak yang tahu dimana Dukuhseti berada. Letaknya di utara Kota Pati, Jateng. Wilayah ini juga masih masuk Kabupaten Pati. Jalan ke Utara Pati menyusuri pinggir Gunung Muria
, akhirnya bisa mencapai Kota Jepara.
Aku bukan warga Dukuhseti, tetapi sudah lama memendam keinginan untuk sesekali menikmati liburan di kampung itu. Memang tidak ada obyek wisata yang menarik. Dia hanya kampung biasa, jika kita melintas di wilayah itu, juga jarang tertarik untuk berhenti, kecuali, kehabisan rokok, atau haus. Pokoknya sepintas lalu kampung ini tidak punya daya tarik istimewa.
Namun aku pernah baca liputan sebuah majalah wanita, lupa namanya, mengungkapkan warga Dukuhseti sangat terbuka dalam soal sex. Diceritakan bahwa bukan hanya anak gadis yang bisa di ajak bobo dirumahnya sendiri, tetapi yang sudah berstatus istri juga bisa dikeloni oleh pendatang.
Tidak mudah memang menemukan mereka yang bisa diajak begitu. Aku pernah penasaran jalan-jalan bertiga sama teman melintas Dukuhseti. Tidak ada yang bisa dijadikan pemberhentian untuk sekedar mencari informasi. Aku memaksa berhenti di sebuah warung kecil, dengan sedikit gaya diplomasi menanyakan keberadaan teman bobo di sekitar itu. Eh pemilik warungnya malah mengangkat alis. Dia katanya tidak pernah tahu. Lha kemana lagi nyarinya.
Memang kalau ada kemauan selalu ada jalan. Dari oreintasiku yang gagal menemukan sasaran, akhirnya aku kembali ke Jakarta. Teman-temanku yang berasal dari Semarang, Demak dan Pati, termasuk dari Juwana kutanyai soal itu. Mereka pada melongo dan menyatakan belum pernah tau.
Dua tahun aku memendam informasi itu, sampai suatu saat temanku orang Semarang mengatakan, dia punya teman yang mengenal betul Dukuhseti. Aku diberi no kontaknya. Tanpa menunda waktu, no kontak itu segera kuhubungi. Ternyata benar dia warga desa Pendem, desa dekat Dukuhseti, mengaku sering memandu orang Semarang dan Jakarta untuk menemukan pasangan di Dukuhseti.
Segera kurancang liburan cuti untuk beravonturir ke wilayah Pantura Jateng itu. Dodo begitu nama kontakku, yang selanjutkan kusebut Kibus (kaki busuk), menyarankan aku agar datang ke sana tanpa membawa mobil atau sepeda motor. Dia menyarankan aku agar menggunakan kendaraan umum saja, karena jalur itu banyak dilayani kendaraan umum.
Aku tentu tidak puas dengan hanya berbekal No HP, meskipun Dodo memberi lebih dari 1 nomor. Aku memaksa meminta no telp rumah. Meski rumahnya tidak ada telepon, tetapi no siapalah yang bisa menghubungi Dodo yang punya No telp rumah. Sebabnya bisa konyol, jika aku sudah mendekati sasaran, semua no HP nya tidak bisa kuhubungi.
Singkat cerita aku sudah dijemput di satu titik di Dukuhseti. Dengan kendaraan sepeda motor, aku diajak ke rumahnya yang tidak berapa jauh. Rumahnya sangat asri, dengan kerimbunan pohon dan khas suasana desa. Setelah hidangan kopi dan singkong rebus siang itu Dodo lalu menanyakan seleraku untuk menemani tidur nanti malam. Aku bingung juga menyebut kriterianya. “ Pokoknya yang cantiklah,” kataku.
Dodo lalu merapatkan duduk. Dia menunjukkan foto-foto yang tersimpan dalam HPnya. Dia menggunakan HP China dengan layar yang cukup lebar. Ada sekitar 15 orang dengan foto berbagai gaya, dari setengah badan sampai full body. Bingung juga aku memilih foto itu. Bagiku sama bingungnya seperti memilih foto di receptionist panti pijat. Dodo kemudian menceritakan latar belakang masing-masing orang dalam foto itu. Ada yang belum kawin, ada yang masih punya suami, ada yang janda lengkap dengan perkiraan umurnya. Dodo memang marketer yang piawai juga dia. Informasi dagangannya dikuasai penuh, bahkan dia mengetahui kelebihan masing-masing anggotanya.
Karena kedatanganku ke Dukuhseti ini ingin merasakan sensasi yang mungkin jarang ditemui di daerah lain, aku memilih wanita yang masih bersuami. Dodo menawarkan 5 orang masing-masing dalam rentang usia 20 – 27 tahun dan sudah memiliki anak.
Sulit bagiku membayangkan situasi di rumah itu, jika aku ingin memakai istrinya dan dikeloni semalaman. Gimana si suami, gimana si anak dan gimana lingkungannya. Meskipun berdebar-debar juga sebelum melakukan itu, aku akhirnya memilih wanita cukup cantik berusia 23 tahun baru punya anak 3 tahun dan tinggal serumah dengan suaminya.
Dodo segera mengontak sasaranku, dan menjelaskan kemungkinan aku menginap semalam di rumahnya. Kelihatan di seberang sana ok, karena sambil menelepon Dodo mengangkat jempolnya ke aku, tapi diminta menunggu 2 jam dulu untuk mereka beberes dalam rangka akan kedatangan tamu.
Dodo menyebutkan kisaran biaya yang diperlukan. Menurutku angka yang disebutkan Dodo masih wajar. Aku membandingkan dengan biaya menyewa cewek untuk tidur semalam di hotel di Jakarta. Rasanya angka yang disebutkan Dodo masih di bawah biaya itu. Aku sengaja tidak menyebutkan nominalnya, karena cerita ini jika dibaca 10 tahun lagi, bakal menggelikan karena nilai itu sudah tergerus inflasi.
Aku banyak bertanya ke Dodo, mengenai bagaimana aku harus bersikap ketika hadir di tengah keluarga itu . Dodo malah dengan enteng menjawab, “Anggap saja Bapak berkunjung ke famili di kampung, ya begitu aja.”
Setelah tiba waktunya, Dodo mengkonfirmasi sebelum kami berangkat. Ketika mendapat jawaban ok, kami pun berangkat. Aku dibonceng Dodo menuju rumah, yang disebut Dodo bernama Mbak Wani.
Dodo mungkin sudah akrab dengan keluarga Mbak Wani. Dia santai saja langsung masuk ke rumah dan menemui langsung penghuninya. Lha yang keluar malah laki-laki berusia sekitar 32 tahun, ya sepantar Dodo lah. Aku sempat terkesiap juga. Tapi segera sirna ketika laki-laki itu yang ternyata suami Wani datang menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku, sambil mempersilakan aku duduk di dalam.
Tentu saja aku tidak bisa membuang rasa rikuhku, sehingga mungkin aku terlihat canggung. “Santai aja pak” kata Dodo. “Iya santai aja disini udah biasa koq,” kata suami Wani.
Tidak lama kemudian muncul sesosok wanita berkulit putih, rambut tergerai sampai hampir mencapai lengan membawa nampan berisi hidangan teh manis. Selesai meletakkan cangkir teh, dia menyalamiku dan memperkenalkan diri bernama Wani. Aku membantin dalam hati, wah lumayan ok juga, parasnya ayu, badannya tinggi sekitar 160 dan dadanya ukuran normal, tidak terlalu besar, dan juga tidak rata.
Dia duduk di sebelah Dodo, karena memang dodo menempati sofa panjang, sedang suaminya duduk di kursi tambahan. “Piye kabare mas, “ katanya sambil menepuk paha Dodo. Yang ditegur sedang asyik mengisap kretek Jarum Coklat. “Iki tak kenalke dholor anyar, “ kata Dodo yang maksudnya dia membawa keluarga baru, maksudnya membawaku.
Waktu itu jam di tangan sudah menunjukkan 5 sore. Suami Wani pandai juga mencairkan suasana sehingga kecanggunganku mulai sirna. Dodo mengkodeku dengan kedipan mata mengajakku keluar. Aku mengikutinya. Dodo mengatakan agar uangnya langsung diberikan ke Wani. Dodo lalu mau pamit dan menanyakan jam berapa aku mau dijemput besok. Aku bilang sekitar jam 9 -10 lah, nanti aku telepon lagi soal itu.
Kami berdua kembali masuk ke ruang tamu, dodo langsung pamit. “ Kok kesusu toh mas,” kata Wani berbasa-basi.
Sepeninggal Dodo aku diajak suami Wani untuk meletakkan ranselku dikamar tidur yang akan kutempati. “ Silakan pak kalau mau istirahat, “ katanya.
Aku tentu saja rikuhlah masak baru datang langsung mau tiduran. Aku permisi ingin ke kamar mandi. Suami Wani menunjukkan arah kamar mandi. Aku segera melampiaskan hasrat kecilku. Selesai itu, ketika keluar aku berpapashian dengan Wani. Uang yang sudah kusiapkan ku serahkan langsung ke tangannya. Dia menyatakan terima kasih, lalu ku sambung dengan permintaanku dibuatkan kopi.
Aku kembali duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Suami Wani tidak kulihat. Kata Wani pergi naik motor bersama anaknya ke warung.
Sampai hari gelap suami Wani belum juga muncul. Aku ditawari untuk menyegarkan badan dengan mandi. Memang badanku terasa lengket karena perjalanan dari Jakarta tadi terlalu pagi.
Aku segera mandi . Sekembali dari kamar mandi rasanya mulai ngantuk. Padahal baru jam 6 sore. Aku mencoba rebahan . Mungkin tempat tidur yang kutempati ini adalah tempat tidur Wani dan suaminya.
Sedang aku memandang keliling kamar, tiba-tiba Wani masuk dan langsung mengunci pintu. “Ayo mas istirahat dulu, apa mau saya pijetin,” kata Wani.
Tawaran yang sulit ditolak, tentu saja kusetujui dengan langsung membuka bagian atas dan membiarkan celana pendek tetap terpasang.
Aku telungkup. Wani memulai memijat dari kaki sampai ke punggung. Selesai bagian belakang dia minta aku berbalik ke posisi telentang. Penisku sudah mengeras dari tadi, ketika aku telentang celana pendekku jadi menonjol bagian depannya. Wani mulai lagi memijat dari kaki Sampai bagian vital, tanpa ragu-ragi Wani meremas penisku. Aku tentu saja melenguh keenakan. Tanpa minta izin Wani memelorotkan celanaku sekalian celana dalamnya. Penisku yang terbebas segera dijadikan sasaran hisapan mulut Wani. Aku menggelinjang-gelinjang merasakan sensasi oral Wani. Dia cukup lihai melakukan oral.
Tidak berapa lama dia kemudian melepas semua pakaiannya sehingga bugil. Lampu kamar diredupkan. Meskipun cahaya remang-remang aku masih bisa melihat tubuh montok Wani. Ternyata susunya lumayan gede dan masih kenceng. Jembutnya cukup lebat, dan pinggulnya melebar.
Wani kembali mengoralku. Aku terus bertahan agar tidak sampai jebol. Kutarik tubuh Wani menindihku lalu kubalikkan sehingga aku jadi menindihnya. Aku menciumi wajahnya, lehernya. Terasa bau wangi sabun. Dia mungkin baru selesai mandi. Susunya menjadi sasaran selanjutnya, kiri dan kanan ku kenyot. Pentilnya sudah agak membesar. Mungkin akibat menyusui. Wani menggeliat-geliat. Ciuman ku teruskan ke bawah dan aku harus menguak rimbunan jembut agar bisa menemukan belahan memeknya. Kujilati seputar vaginanya dan akhirnya aku membekap mulutku ke sasaran dan lidahku mengusap clitorisnya. Wani mulai kelojotan ketika penisnya terus aku serang. Dia merintih-rintih seolah di rumah ini hanya kami berdua. Wani tidak mampu bertahan lama, karena dia akhirnya mencapai orgasmenya yang pertama. Aku segera memasukkan penisku ke dalam belahan memeknya. Terasa hangat dan cairannya agak lengket. Efeknya penisku serasa dicekat oleh liang Wani. Aku menggerakkan maju-mundur dengan ritme yang pelan, tetapi berusaha menggeruskan bagian atas liang vaginanya. Namun rasa nikmat tidak bisa kupungkiri sehingga aku akhirnya tidak sabar dan mempercepat gerakanku. Aku sudah semakin dekat dengan ejakulasi dan rasanya tidak terbendung lagi. Aku genjot dengan gerakan kasar dan cepat. Saat ejakulasiku tiba kutekan dalam-dalam penisku ke dalam memek Wani. Wani rupanya juga mencapai orgasmenya, karena aku merasa cengkeraman lubang vaginanya dengan ritme yang hampir sama dengan ritme ejakulasiku.
Selesai hubungan itu kami istirahat sebenar. Wani bangkit mengambil handuk kecil yang sudah dia basahi. Sekujur penisku di bersihkannya dengan telaten, sampai bersih benar. Handuk yang sama juga digunakan untuk membersihkan memeknya sebelum dia kembali mengenakan pakaian.
Aku bangkit untuk kembali memakai kaus dan celana boxer ku. Rasanya lelah juga habis bertempur dengan Wani. Setelah Wani keluar kamar aku mencoba istirahat sambil berbaring. Rupanya aku jatuh tertidur.
Aku sadar ketika Wani membangunkanku sekitar jam 9 malam untuk makan malam. Dengan mata masih berat aku bangun. Sekeluar dari kamar aku langsung ke kamar mandi untuk BAK dan mencuci muka. Di ruang tengah sudah menanti makanan, katanya makanan itu khas Pati, nasi Gandul. Aku baru pertama ini makan nasi gandul. Nasi dengan lauk seperti semur daging, tapi rasanya beda dengan semur. Suami dan anak Wani ikut makan bersama. Kami sudah seperti keluarga. Namun uniknya keluarga baru jadian yang langsung meniduri istri tuan rumah. Enak Tho, Mantap Tho, kata almarhum Mbah Surip.
Selesai makan aku duduk di ruang depan sambil menghisap rokok ditemani suami Wani. Kami ngobrol ngalor ngidul gak ada isi.
Tapi rasa penasaranku menggelitik juga ingin mengetahui pandangan suami Wani dan penduduk sekitar sini yang membolehkan istrinya ditiduri orang lain. “Wah disini sudah biasa begitu Pak, tetapi akhir-akhir ini agak dibatasi, karena Lurah dan Camat tidak ingin daerahnya dicap jelek.,” kata suami Wani.
Kami ngobrol sampai jam 11 malam, sampai akhirnya suami Wani mempersilakan aku istirahat. Aku turuti, karena memang agak ngantuk juga. Sebelum masuk peraduan, aku sikat gigi dulu biar mulut terasa segar.
Di dalam sudah ada Wani yang berbaring. Kuredupkan lampu dan aku berbaring di sebelahnya. Kami mulai lagi bercumbu sampai akhirnya berdua bugil. Permainan dilanjutkan dengan berbagai posisi. Permainan kali ini agak lama karena aku agak bisa menahan lama ejakulasiku.
Seperti tadi sore selepas aku melepas hasratku, Wani membersihkan penisku dengan handuk basah. Dia menawariku mengenakan sarung. Aku tanpa celana dalam dan kaus mengenakan sarung. Suasana desa itu tidak terlalu dingin, tetapi juga tidak gerah. Wani keluar lalu kembali dengan juga mengenakan sarung. Dia membuka semua pakaian atasnya dan tidur di sebelahku . Wani tidur memelukku, sehingga teteknya menekan pundakku. Aku yang sudah lelah dan ngantuk akhirnya jatuh tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tidur, terbangun karena merasa ada sesuatu. Penisku rupanya sudah menjadi santapan Wani. Dia dalam keadaan telanjang menelungkup diantara kedua kakiku sambil melomoti penisku. Kulirik jam tangan , baru jam 5 pagi, tetapi dari kisi-kisi jendela sudah mulai terlihat ada cahaya terang.
Permainan pagi adalah yang paling aku sukai. Rasanya badan kembali fit untuk melakukan pertempuran. Aku pasrah dikerjai Wani. Setelah puas mengoralku, dia mulai menduduki penisku dan dengan gerakan hati-hati dia mulai menggenjot dengan gerakan naik turun. Dia mengira aku masih tertidur sehingga gerakannya terasa sangat hati-hati. Namun sejalan makin meningkatnya nafsu birahi menjalari tubuhnya, Wani mulai melakukan gerakan kasar sambil mendesis-desis. Gerakannya juga kini sudah berubah menjadi maju mundur. Penisku seperti diperas di dalam memek Wani. Nikmat sekali rasanya, tetapi aku terus bertahan dengan pura-pura tidur. Kelihatannya Wani mendekati orgasme sehingga dia melakukan gerakan dengan semangat sambil terus mendesis. Benar juga tak lama kemudian dia menghentikan gerakan lalu ambruk ke dadaku. Sekujur liang vaginanya berkedut-kedut. Aku yang lagi tanggung untuk mencapai orgasme langsung membalikkan posisi. Wani kugenjot dengan mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Sensasi jepitan memeknya terasa nikmat sekali. Namun posisi itu tetap sulit bagiku untuk menghantar orgasme. Aku kembali ke posisi awal sambil setengah menindih Wani malakukan gerakan keluar masuk ke memek Wani. Rasa memek Wani memang sedap sekali, legit dan mencengkeram. Tidak bisa bertahan lama aku segera menyemprotkan ejakulasiku ke rahim Wani. Setelah itu aku terbaring lemas di sisnya. Kami berdua dalam keadaan telanjang bulat berbarih rehat setelah bertempur sekitar setengah jam.
Wani bangkit menyerahkan sarung agar aku pakai. Dia minta aku menunggu sebentar di kamar sambil istirahat. Dia dengan mengenakan sarung dan kaus keluar kamar. Sekitar 15 menit, Wani masuk dan menarikku bangun. Aku diajaknya ke kamar mandi . Aku turuti apa yang dikehendaki, tanpa tahu ujungnya bagaimana. Ternyata di kamar mandi sudah tersedia air panas. Kata Wani, air panas itu disiapkan oleh suaminya. Wani membuka semua bajunya lalu bajuku. Engan dengan telaten memandikanku bagaikan memandikan anak kecil. Semua bagian dia usap dengan sabun sampai ke belahan pantat dia bersihkan. Nikmat sekali service Wani van Dukuhseti ini. Mungkin kalau dirating, servicenya dapat point 9.
Selesai kami berdua mandi, Wani membimbingku kembali ke kamar. Aku dibedakinya dengan bedak talk dan dikenakannya pula bajuku. Wah benar-benar dimanjakan rasanya.
Aku sudah barang tentu segar bugar. Namun perut terasa lapar juga, Tidak lama kemudian muncul Wani mempersilakan aku menikmati sarapan nasi goreng. Selepas itu aku kembali duduk di ruang tamu sambil menikmati seiaran berita pagi. HP ku bergetar, Dodo mengontakku, dia tanya apa mau dijemput sekarang. Aku segera menyetujui. Tidak sampai 10 menit Dodo sudah muncul.
Aku berpamitan dengan Wani dan suaminya, berjanji kapan-kapan akan mampir lagi kalau ke Dukuhseti.
Dodo dasar seorang marketer yang berbakat, dia menawariku lagi pasangan untuk menginap semalam lagi di desa. Ditunjukkan foto di HP. Wajahnya manis, kulitnya putih, dan kelihatan masih muda. “ Baru 18 tahun pak, belum pernah kawin dan belum punya anak, ini sip pak. Orang nya lebih cantik dari fotonya , dijamin mantap lah pak.” Kata dodo terus berpromosi.
Setelah kutimbang-timbang akhir setuju memparpanjang semalam lagi di Dukuhseti. Dodo segera mengontak cewek yang dia promokan. Cewek itu bernama Harti tinggal di Desa Pendem, tidak jauh dari tempat tinggal Dodo. Kami berdua segera meluncur menuju sasaran. Rumah Harti tidak sebagus rumah Wani. Keluarganya hidup sangat sederhana . Rumahnya separuh batu, yang separuh lagi dari anyaman bambu yang dilapisi kertas lalu dicat pakai kapur tembok. Model rumahnya kayak model joglo, lantainya semen.
Sesampainya dirumah tujuan Dodo seperti biasa langsung blusak-blusuk ke dalam, sementara aku menunggu di amben di teras rumah. Rumahnya agak masuk ke dalam gang dan halamannya tertutup pohon rimbun, diantaranya ada pohon pisang.
Tidak lama kemudian keluar sepasang suami istri yang kutaksir berumur sekitar 40 tahun. Mereka memperkenalkan diri sebagai bapak dan ibunya Harti. Aku dipersilakan masuk duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian muncul gadis yang bernama Harti dengan rambut diikat kebelakang. Ia membawa nampan berisi teh tawar. Wajahnya khas abg, masih segar, cantik , putih dan tingginya kutaksir hampir 165. Gadis-gadis di Dukuhseti ini banyak yang cantik-cantik. Konon katanya di zaman dahulu banyak orang Portugis mengawini wanita lokal. Sebenarnya bukan hanya di Dukuhseti, tetapi juga di Keling dan Tayu. Wah tapi itu mungkin di abad 17 apa 16 ya. Menurut catatan, benteng Portugis di Tayu dibangun antara tahun 1613-1645. Boleh jadi keturunan Portugis itu sudah generasi yang kesekian. Yang masih tersisa adalah wajah cantik dan kulit putih.
Saat kami ke rumah Harti, jamnya adalah jam tanggung yaitu jam 11 siang. Janggal aja rasanya jam segitu sudah kelonan sama anak orang. Harti diminta duduk dekat ku dengan kursi tambahan oleh kedua orang tuanya setelah salaman dengan ku.
Seperti biasa Dodo lalu pamit. Sepeninggalan dodo, kedua orang tua Harti juga undur diri kebelakang. Tinggallah aku dan Harti berdua di ruang tamu yang sederhana ini. Terlintas di otakku tiba-tiba untuk mengajak jalan-jalan Harti ke Pati. Paling tidak aku butuh ke ATM dan mungkin bisa menikmati wisata kuliner di kota itu. Ketika Harti kutawari itu, dia setuju. Dia pun bergegas mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan kaus. Meski tampilan pakaiannya sederhana, tetapi kecantikannya terpancar dari auranya. Dengan kendaraan umum kami berdua menuju Pati. Tujuan pertama adalah mencari ATM. Setelah itu aku ingin menikmati wisata kuliner di kota ini. Harti tidak banyak tahu mengenai tempat-tempat makan. Dia hanya tahu tempat makan bakso. Yah mungkin seusianya , belum waktunya berkenalan wisata kuliner. Aku terpaksa menelpon Dodo. Dia merekomendasikan hidangan “ndas mayung””Kepala ikan mayung . Ini rasanya pas benar. Aku tentu saja tidak tahu alamat yang ditunjuk Dodo, tetapi dengan bantuan becak dan pengetahuan Harti yang agak terbatas, akhirnya ketemu juga warung yang menyediakan menu kepala ikan mayung dimasak mangut. Yakni berkuah santan dengan rasa agak pedas.
Lumayan sedap santapan yang direkomendasikan Dodo. Paling tidak tempat ini menjadi catatanku kalau kelak kembali ke Pati.
Kuperhatikan Harti memiliki HP yang sudah ketinggalan zaman dengan layar masih hitam putih, padahal anak seusia dia, paling senang kutak-katik HP. Yah mungkin dia dari keluarga yang kemampuannya terbatas, sehingga tidak sempat mengeluarkan biaya untuk membeli HP model terbaru.
Aku menanyakan dimana banyak orang menjual HP. Harti menunjuk satu lokasi lalu kami kesana. Dia sempat bertanya, mau cari apa kok nanya tempat penjualan HP. Aku bilang aja mau beli baterai HP ku karena sudah kurang bagus.
Di tempat tujuan aku memilih satu toko yang kelihatannya mempunyai cukup lengkap koleksi HP Nokia. Harti heran melihat aku memilih-milih HP Nokia. Aku minta kepada penjual, tipe yang tipis, ada radio, ada kamera, bisa dengar lagu banyak dan modelnya candy bar. Aku ditunjukkan satu model yang kelihatannya ok. Lalu setuju aku beli. Setelah meninggalkan toko, Harti bertanya, “Lho tadi katanya mo beli baterai, kok malah beli HP toh oom,” tanyanya heran.
“ Iya ini untuk kamu, “ kataku sambil menyerahkan bag berisi kotak HP.
“Yang bener Oom, makasih yaaa, makasih, “ katanya dengan raut wajah kegembiraan.
Harti lulus SMA tahun lalu, tetapi tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain tidak ada biaya dia merasa kemampuannya tidak nyampe untuk kuliah, apalagi harus ke Pati, atau ke Semarang.
Dengan kendaraan umum kami kembali ke Dukuhseti, tepatnya ke Desa Pendem. Harti tidak sabar ingin melihat HP barunya. Dia segera mengeluarkan HP itu dari kotaknya dan mengutak-kutik sepanjang perjalanan pulang. Sampai-sampai hampir kelewatan kami turun dari angkutan.
Sesampai di rumah Harti langsung melapor ke orang tuanya bahwa aku membelikannya HP baru. Naluri cewek terhadap HP memang luar biasa. Tanpa kuajari dia sudah paham soal menu dan penggunaan HP. Sesampainya di rumah Harti, aku merasa gerah dan ingin mandi. Kamar mandi di rumah ini agak kebelakang dan sepertinya di bagian luar rumah mendekati sumur. Setelah badanku segar, aku dipersilakan oleh kedua orang tua Harti untuk beristirahat di kamar. Kamar untukku sudah dipersiapkan rapi, ada kelambunya segala.
Enak sekali rasanya berbaring menghilangkan kepenatan jalan ke Pati tadi. Tanpa kusadari ternyata aku tertidur. Aku terbangun setelah mungkin tertidur sejam, karena merasa kakiku dipijati. Ternyata Harti dengan hanya berkemben sarung duduk di bagian kakiku memijati kakiku kiri dan kanan. Segera dia kutarik untuk berbaring disampingku. Kupeluk dan kuciumi pipi dan lehernya. Harti bereaksi dengan mendongakkan kepala. Sarungnya kubuka , ternyata Harti tidak mengenakan BH. Buah dadanya mancung dengan puting yang kecil. Kenyal sekali ketika kuremas-remas. Aku melepaskan sarungnya melalui cara memelorotkan ke bawah. Ternyata dia juga tidak mengenakan celana dalam. Terasa tersentuh jembut tipis dari memek yang mentul. Jari tengahku segera beroperasi di belahan memeknya yang sudah mulai basah. Kedua tetek ranumnya kuciumi dan pentilnya sekali-kali kuhisap dan kugigit pelan. Harti sudah terangsang. Kakinya dibukanya lebar-lebar. Aku ingin mencicipi rasa memek abg 18 tahun ini. Aku segera menjilati seputaran turuk mentulnya. Harti menggeliat-geliat.Apalagi ketika itilnya kujilat. Dia makin gelisah.aku terus bertahan menyerang klitorisnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme.
Giliran berikutnya aku menancapkan batang penisku dan memompanya. Harti terengah-engah menikmati sodokanku. Aku berganti posisi dogy, setelah itu posisi WOT, akhirnya kembali lagi ke posisi MOT sampai aku melepaskan tembakan mani di dalam memeknya.
Kami berbaring berdampingan. Harti kelihatan kelelahan karena dia langsung tertidur nyenyak. Aku kembali mengenakan pakaian untuk ke kamar mandi belakang. Di dapur kulihat ibu Harti sedang sibuk menyiapkan masakan. Tadi siang sebelum aku berangkat ke Pati sudah sempat menyelipkan uang jasa untuk Harti ke ibunya. Mungkin saja dari uang itu dia menyiapkan hidangan untuk nanti malam.
Aku kembali ke kamar dan tidur disamping Harti. Anak ini pulas sekali tidurnya. Mungkinkah dia mencapai orgasme yang paripurna, karena biasanya cewek kalau mendapat kepuasan sex yang tinggi akan mengantuk dan tidurnya sampai ngorok. Nah si Harti juga ngorok halus, sambil tetap telanjang.
Tidak ada yang dapat kukerjakan kecuali ikut tidur lagi. Aku terbangun hari sudah malam dan yang membangunkanku adalah Harti. Dia mengajakku makan malam. Hidangan soto kemiri, yang khas Pati sudah terhidang di meja dalam keadaan berasap. Aku memang sudah keroncongan dari tadi, tanpa rasa sungkan aku langsung menyendok nasi dan soto. Nikmat sekali rasanya. Ibu Si Harti pintar masak rupanya.
Selepas makan malam aku duduk di depan dengan hidangan kopi panas tubruk, mengobol dengan Bapak. Dia bercerita tentang pertanian dan nelayan. Kedua bidang itu sekarang makin berat dijadikan sandaran hidup. Pertanian selalu dipermainkan oleh harga, sementara mencari ikan makin sulit.
Aku menimpali seadanya, sesuai dengan pengetahuanku. Namun si ayah bersemangat sekali cerita. Aku merasa heran juga, dia sama sekali tidak jengah kepadaku, padahal, jelas-jelas anaknya baru kutiduri, dan itu dirumahnya. Suasana seperti ini sebenarnya yang kucari sampai jauh-jauh datang ke Dukuhseti. Kalau sekedar mencari, cewe, banyak yang cantik di Jakarta, tempat menginap di sana juga jauh lebih nyaman, tetapi aku tidak mendapatkan suasana apa-apa, kecuali menikmati tubuh lawan mainku. Aku merasa menyelami isi hati masyarakat setempat, sampai mereka bisa menerima “tamu” untuk main dirumahnya sendiri.
Kami ngobrol sampai jam 11 malam dan ayah Harti mempersilakan aku untuk istirahat, karena besok akan melakukan perjalanan jauh kembali ke Jakarta. Aku masuk ke kamar, kulihat Harti sudah tidur tergolek, lampu sudah dipadamkan . Sumber cahaya hanya dari celah-celah lubang angin. Kuperhatikan Harti sudah mengenakan kemben sarung seperti tadi sore. Aku pun mengikuti mengenakan sarung langsung tidur di sebelahnya.
Begitu aku berbaring, Harti langsung memelukku. Sambil berpelukan aku ngobrol mengenai kehidupan di desa ini terutama soal cewek yang bisa diajak tidur. Banyak temen-temen Harti yang tamat SMA, atau malah yang masih sekolah sudah menerima “tamu” di rumahnya. Menurut dia tradisi itu sudah berlangsung lama, mungkin sejak neneknya mereka sudah melakukan hal itu. Makanya mereka sampai sekarang mewarisi tradisi itu.
Aku malam itu hanya kuhabiskan dengan ngobrol sampai tertidur. Mau bertempur rasanya lagi hilang selera. Kami tidur berpelukan .
Paginya ternyata penisku masih bisa berdiri. Aku mulai mencumbu Harti. Dia terbangun dan menanggapi cumbuanku. Pagi itu sekitar jam 5 kami menuntaskan nafsu birahi kami, sampai aku jatuh tertidur lagi.
Entah jam berapa aku dibangunkan Harti, katanya Dodo sudah datang.
Biasanya dia nelpon aku kalau mau datang, kali ini kenapa dia langsung nongol, padahal aku belum mandi.
Dodo mempersilakan aku mandi dan membereskan barang-barang. Dia memang sengaja datang tanpa menelpon. Katanya ada informasi penting.
Bikin penasaran saja sampai sarapan yang dihidangkan ibunya Harti tidak bisa kunikmati. Setelah berbasa-basi sejenak. Aku pamit meninggalkan kediaman keluarga Harti.
“Ada apa sih Do, kamu kok kelihatannya penting banget,” tanyaku.
“Sabar bos, nanti saja dirumah saya jelaskan,” katanya.
Sesampai dirumah, Dodo menghidangkan kopi tubruk. Memang mantap menghirup kopi, sambil menyedot rokok kretek.
“ Ini bos ada cewek yang masih segelan, lagi butuh uang. Orangnya cakep masih 16 tahun. Saya kemarin sore kerumahnya. Ini fotonya,” kata Dodo sambil menunjukkan gambar di HP nya.
Memang bener anaknya masih imut, putih, rambutnya lurus. “ Nggak banyak kok mintanya, “ kata Dodo sambil terus menyebutkan angkanya. Aku membatin dalam hati, jumlah yang disebutkan Dodo itu tidak jauh dengan harga HP yang kubelikan untuk Harti, kemarin. Di Jakarta kalau pun ada cewek yang masih segelan (perawan), harganya jauh di atas itu dan parasnya tidak pula semanis dengan cewek yang ditawarkan Dodo.
“Bener dia mau buka segel, anaknya apa udah mau, jangan-jangan karena dipaksa orang tuanya,” tanyaku.
“Enggak bos, anaknya udah siap, saya sudah tanyai anaknya langsung kok, pokoknya kalau bos berminat kita bisa kesana sekarang,” katanya.
Aku berpikir sejenak, cutiku yang kuhabiskan di Dukuhseti ini bakal sempurna, karena mendapatkan multi source. Aku menyetujui.
Tunggu bos nggak bisa sekarang, anaknya masih sekolah di SMP kelas 3. Biasanya anak SMP pulang jam 2 an. Nanti jam 3 saja kita kesana. Sekarang santai aja dulu katanya.
Sekitar jam 2 lebih, HP Dodo berdering. Ternyata dari keluarga si perawan itu. Mereka menanyakan apakah aku jadi menginap dirumahnya. Dodo menjawab sambil jempolnya diacungkan. Mungkin maksudnya dia juga berkomunikasi dengan ku. Paling tidak dia ingin mengatakan, siiip.
Kami berdua lalu meluncur dengan sepeda motor Dodo ke sasaran. Sebuah rumah yang sederhana, agak terpencil dari tetangganya. Halamannya luas bersih dari tanaman rumput, karena terlindung oleh rimbunnya pohon mangga. Rumahnya tidak jauh mutunya dari rumah Harti. Aku segera disambut, oleh keluarga Pak Santo suami istri. Tidak lama kemudian muncul gadis yang akan menjual segelnya masih berseragam SMP dengan rok biru. Badannya belum berkembang penuh, meski teteknya sudah kelihatan tumbuh. Namun tubuhnya agak bongsor, maksudnya tinggi. Mungkin sekitar 160 cm. Dengan malu-malu dia menyalamiku.
Kami akhirnya masuk ke ruang tamu. Disitu, Pak Santo, istrinya dan cewek itu yang kemudian kuketahui bernama Nurmala. Dengan bahasa Jawa Dodo mengkonfirmasi bahwa memang benar Mala, begitu panggilannya akan menjual keperawanannya. Kedua orang tuanya menggangguk. Mala ketika ditanya soal kesiapannya juga mengangguk. “ Tuh bos, sudah lihat sendiri kan, mereka sudah rela, sekarang tingal bos sendiri memutuskan,” kata Dodo.
Aku memutuskan setuju dan deal dengan harga yang mereka minta. Hati kecilku sesungguhnya merasa tidak tega. Betapa mereka mengorbankan barang demikian berharga untuk harga yang menurutku tak seberapa. Tapi pikiran lainku mengatakan, kalau bukan aku yang mengambil kesempatan ini, pasti ada orang lain yang akan mengambilnya.
Aku mengode Dodo dengan kedipan, dia mengerti dan beranjak keluar bersamaku. “do aku nggak punya amplop,” kataku.
“Sudah langsung aja, di kampung gak perlu amplop-amplopan,” kata Dodo. Aku segera menyerahkan sejumlah uang yang mereka minta kepada Pak Santo,. Aku memintanya dia menghitung kembali uang itu, tetapi dia menolak. Katanya dia tidak pandai menghitung uang.
Aku dipersilakan langsung masuk ke kamar tidur, tetapi tawaran itu kutolak halus. Aku katakan aku ingin mandi dulu.
Rumah di desa ini kebanyakan memiliki kamar mandi di luar rumah. Aku minta izin mau menyegarkan diri dulu. Pak Santo minta aku menunggu sebentar, karena dia akan mengisi air untukku mandi. Pintu kamar mandi hanya berupa korden . Sesungguhnya aku malu juga bertelanjang bulat di kamar mandi ini. Sebetulnya dibilang kamar mandi juga kurang tepat, karena hanya berupa ruangan dengan plesteran semen dan ada 2 ember plastik lebar yang penuh berisi air dan ada pompa tangan. Ketika aku sedang asyik buka baju, tiba-tiba Mala masuk kedalam, katanya dia juga mau mandi, karena gerah habis sekolah.
Aku terbengong-bengong,. Bagaimana jadinya kok bisa begini. Mala tenang saja membuka baju sekolahnya sehingga tinggal BH dan celana dalam. BHnya , mungkin kurang tepat disebut BH, tetapi mungkin miniset, dan celana dalamnya terbuat dari kain katun. Dia membelakangiku dan mencopot miniset dan celana dalamnya lalu langsung berjongkok di dekat ember.
Aku masih terbengong-bengong dan masih memakai celana dalam. Mungkin aturannya disini kalau mandi harus jongkok di samping ember. Tapi aku nggak pernah begitu. Rasanya kalau jongkok ada bagian tubuh yang tidak terguyur air. Jadinya ya aku terpaksa harus berdiri, dan apa boleh buat harus mempertontonkan kemalauanku ke Mala, sebelum bendera start dikibarkan.
Mala tenang saja telanjang sambil jongkok menghadapku. Meski telanjang aku juga tidak leluasa mengamati tubuhnya, karena sebagian susunya tertutup lututnya dan kemaluannya tertutup ember dan jepitan kedua pahanya. Tadinya aku berharap kalau dia sabunan akan berdiri, tetapi nyatanya tidak dia tetap jongkok sambil menyabuni tubuhnya.
Mungkin kalau kamar mandi ini tidak hanya ditutup kain korden di pintunya aku sudah menawarkan diri menyabuninya. Tapi rasanya jadi malu kalau ketauan orang tuanya diluar. Akhirnya aku cuek aja menyabuni diriku dan alat vitalku. Herannya Mala kok tidak tertarik memperhatikan kelaminku. Pandangannya biasa saja. Aneh juga.
Selesai mandi Mala hanya berbalut handuk keluar dan aku berpakaian lengkap dengan celana panjang jins dan kaus oblong.
Sekeluar dari kamar mandi aku diarahkan oleh Pak Santo untuk masuk kamarku. Dia lalu menutup pintu. Di dalam aku melihat Mala sedang duduk dipinggir tempat tidur masih berbalut handuk yang dia pakai keluar kamar mandi tadi.
Aku duduk disampingnya. “ Kamu sudah siap,”
Dia menjawab dengan menggangguk.
“Apa kamu nggak takut”
Mala mengelengkan kepala.
“Kamu sudah punya pacar ?”
Dia kembali menggelengkan kepala.
“Sudah pernah pacaran ?”
Kembali kepalanya digelengkan.
“ Kok kamu berani memberikan keperawanan kamu ke saya, “ tanyaku.
“Aku nggak mau kayak teman-temanku keperawannya diambil oleh pacarnya lalu ditinggal. Mendingkan kayak gini aku dapat duit,” katanya.
Jawaban yang diluar perkiraanku ini masuk akal juga. Dia tidak mau melepaskan keperawanannya secara gratis, apalagi ke pacarnya seperti teman-temannya lalu ditinggal .
Mala kupeluk. Dia diam saja. Lalu kuajak rebahan. Dia menurut.
Aku mulai menciumi keningnya, pipinya, telinganya kiri dan kanan. Terasa sekali kalau gelagatnya dia masih kaku.
Handuknya kubuka, maka terpampanglah kedua payudaranya yang baru tumbuh. Pentilnya masih kecil dan aerolanya juga belum lebar. Kedua susunya menjadi sasaran ciuman dan kenyotan mulutku. Mala diam saja pasrah. Tanganku pun beroperasi kebawah menjangkau kemaluannya, Tanganku merasa di sana belum ada ditumbuhi bulu. Yang terasa hanya bulu-bulu halus. Ketika handuknya kubuka, terlihat memeknya memang masih relatif gundul dan menggembung. Kuciumi susunya lalu perutnya dan perlahan-lahan turun ke gundukan memeknya. Mala mengenluh geli. Aku tidak memperdulikan, Kedua kakinya kurenggangkan sehingga belahan memeknya agak terbuka sedikit. Warnanya merah muda. Jilatanku langsung menuju belahan itu. Mala mengeluh karena rasanya geli. Aku minta dia bertahan sebentar, karena rasa geli itu nanti akan hilang.
Lidahku beroperasi di belahan memek Mala dan ujung clitorisnya terlihat agak mencuat. Aku menjilati ujung itil itu, Mala menggeliat, geli sekali katanya.
Aku bersabar tidak langsung menjilat ujung itilnya lagi, tetapi di seputar itilnya sampai dia merasa tidak geli lagi. Badannya berjingkat-jingkat menandakan ada rasa nikmat yang dia rasakan. Dengan sentuhan halus lidahku mulai bermain di itilnya. Mala mendesis tertahan. Dia melonjak-lonjak setiap kali itilnya kusapu dengan lidah. Lama sekali aku bermain oral di kemaluannya tetapi aku tidak merasakan dia mencapai orgasme.
Akhirnya aku bosan dan aku mulai menindihnya . Kepala penisku ku posisikan di depan lubang kemaluan Mala. Dia kelihatan tegang. Aku minta agar jangan tegang, karena nanti akan terasa sakit.
Penisku berkali-kali kepeleset gagal memasuki lubang tujuan.
Aku bangkit dan membasahi ujung penisku dengan ludah. Sambil duduk kubuka lebar belahan memeknya dan kepala penisku kudorongkan ke liang vaginanya.
“Oom pelan-pelan oom, sakit,” katanya.
Aku minta dia menahan sakit itu sebentar. Kepala penisku mulai berhasil menerobos masuk, meski hanya bagian kepala saja. Kudorong lebih jauh, tetapi terasa sukar. Aku tidak menyerah, dan terus mendorong, sampai masuk agak dalam dan akhirnya tertahan. Mungkin selaput daranya menahan laju masuknya penisku. Kutarik sedikit penisku lalu didorong lagi. Begitu berkali kali sampai jalannya agak lancar.
Tetapi untuk masuk terus masih ada halangan. Aku mengeraskan penisku dan mendorong sedikit agak kuat. Terasa ada sesuatu yang pecah di dalam. Mala menjerit kecil sambil mengatakan sakit. Aku terus mendorong, dan penisku bisa makin dalam memasuki liang vaginanya yang masih perawan. Ketika semua batang penisku sudah ambles. Terasa lubang vaginanya sangat mencekam. Ketat sekali rasanya. Ketika kutarik sedikit Mala meringis, menahan sakit lalu kudorong lagi, sampai akhirnya gerakanku agak lancar baru aku berani memompa dengan gerakan agak panjang. Memeknya sempit banget, maklum masih perawan. Sehingga aku pun tidak mampu bertahan lama dan pecahlah spermaku di dalam memek mala.
Kubiarkan penisku di dalam memeknya sampai akhirnya susut dan pelan-pelan kutarik keluar. Mani tidak terlalu banyak, karena selama 2 malam ini terus-terusan bertempur.
Kulihat di penisku ada sedikit darah. Dan di sprei juga ada sedikit mani bercampur darah .
Mala mengatakan memeknya perih. Aku jelaskan bahwa memecahkan perawan memang selalu terasa perih. Untuk selanjutnya kuyakinkan bahwa rasanya tidak akan sesakit itu lagi.
Aku beristirahat . Mala bangkit dengan berkemben handuk dia keluar kamar. Dia kelihatannya mencuci memeknya. Aku pun membersihkan penisku yang agak belepotan mani dan darah dengan tissu lalu kembali mengenakan pakaian lengkap.
Aku berbaring saja di kamar untuk beristirahat. Mungkin karena kelelahan aku tertidur. Aku dibangunkan Mala ketika hari sudah mulai gelap. Setelah membersihkan diri ke kamar mandi aku dipersilakan makan malam.
Tidak ada rasa canggung baik Pak Santo maupun istrinya, juga Mala berhadapan denganku. Kami ngobrol dan meneruskan obrolan ke ruang tamu. Belum jam 10 aku dan Mala sudah digiring lagi oleh Pak Santo masuk ke kamar tidur. Di dalam kamar Mala hanya tidur terbujur. Aku mengorek informasi mengenai lingkungannya dan akhirnya malam itu aku main sekali lagi. Agak lama meski memeknya yang kuterjang masih sempit. Rasanya dia belum bisa menikmati persetubuhan, karena katanya memeknya masih agak perih.
Selesai “bermain” kami tertidur lelap. Paginya sebetulnya aku masih ingin menggenjot sekali lagi. Tetapi seleraku sudah hilang, sehingga niat itu urung. Aku bangun pagi langsung mandi kebelakang dan memompa sendiri air. Tak lama kemudian Mala pun menyusul. Kami kembali mandi berdua. Tapi kali ini aku tidak canggung-canggung memandikan Mala dan menyabuninya. Dia pun mau ketika kuminta menyabuni tubuhku. Aku tidak perduli jika pun ada yang melihat sekilas dari luar aktifitas kami di kamar mandi.
Sebelum aku pamit, aku sempat menyelipkan sejumlah uang sebesar setengah dari harga yang diminta kemarin langsung ke Mala. Pesanku, “ ini untuk beli HP baru.”
Tak lama kemudian Dodo sudah muncul. Aku langsung naik ke boncengannya dan dia kembali membawaku kerumahnya. “ Gimana bos masih kuat. “ aku bilang aku sudah menyerah, gak kuat lagi.
Aku diantar Dodo ke pemberhentian angkutan dan dengan itu aku kembali ke Semarang dengan berganti bus di Pati. Di semarang aku sempat meningap semalam, baru keesokan siangnya aku terbang kembali ke Jakarta. ***


JASA MULTY ORGASME 089675261863 

CERITA SEX - TANTE GIRANG MANIAK NGOCOK

        Cerita seks tante girang ini merupakan kisah nyata. Pengalaman dari seorang gigolo yang disewa tante-tante girang untuk pesta seks disebuah villa. Secara bergiliran pemuda gigolo tersebut melayani para tante yang sedang haus seks dan butuh kehangatan. Seperti apa cerita seks tersebut, simak berikut ini..

Perkenalkan pembaca namaku Andre, usia sekitar 24 tahun. Aku seorang gigolo dari kota kembang Bandung. Aku akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 pelangganku dalam semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku mempunyai pelanggan tetap namanya Tante Dessy (bukan nama asli), dia seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang di Bandung.

Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Dessy.
“Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya.
“Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?” kataku.
“Kamu nanti sore ada acara nggak?” katanya.
“Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?” tanyaku.
“Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?” katanya.
“Bisa tante.. aku siap kok?” jawabku.
“Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu”, katanya.
“Oke.. Tante”, balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.

Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Dessy akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Dessy, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.

Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun usia mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Vivi umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Nita 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Dessy dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Dessy refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.

Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Vivi yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Vivi, lalu tangan Tante Vivi, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Vivi kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Vivi langsung bicara kepadaku, “Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu..” katanya.
“Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?” katanya.
“Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Andre kasih”, kataku yang langsung disambut Tante Vivi dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil disedot-sedot dan dikocok-kocok.
Tante Nita yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Vivi. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Vivi dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.

“Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Andre minta?” tanyaku.
Tante Vivi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Vivi merem melek dan medesah kenikmatan, “Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang..”

Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.
“Tante… Andre mau keluar nich..” kataku.
“Keluarain di mulut Tante aja”, katanya.
Selang beberapa menit, “Crooot.. crooot.. crottt..” air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante Vivi, lalu Tante Vivi menyapu bersih seluruh air maniku.

Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan tangan kiriku meremas-remas toket yang kiri dan kanan.

Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Vivi kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, “Blesss.. belssss.” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Vivi menggelinjang kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Vivi, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di liang kewanitaannya.

Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Vivi untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan akhirnya, “Crooot.. crott.. croottt..” air maniku muncrat di dalam mulut Tante Vivi. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas. Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.

Sesampainya di villa Tante Dessy sekitar jam 8 malam. Lalu mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Dessy memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.

Kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Dessy. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Nita dan Tante Dessy, sedangkan Tante Vivi kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Vivi.

Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Nita sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. bleeesss..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Nita, lalu Tante Nita menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaan Tante Vivi, sedangakan Tante Dessy meremas-remas toket Tante Nita.
Beberapa jam kemudian, Tante Nita sudah orgasme dan Tante Nita terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku. Kini giliran Tante Dessy yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang senggamanya, “Bleesss.. bleesss..” batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Dessy. Sama seperti Tante Nita, pinggul Tante Dessy dinaik-turunkan dan diputar-putar.

Setengah jam kemudian, Tante Dessy sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Dessy, lalu kusuruh Tante Vivi untuk berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. .bleeess..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Vivi. Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Vivi, dan terdengar desahan hebat, “Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak..” Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. “Akhhh.. akhhh..” terdengar lagi desahan Tante Vivi. Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.

Aku merasakan liang kewanitaan Tante Vivi basah dan ternyata Tante Vivi sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Vivi kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, “Blesss.. blessss.. blessss..” batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante Vivi, “Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?” tanyaku.
“Di dalam aja Sayang..” pintanya.
Kemudian, “Crottt.. crooottt.. croottt..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Vivi, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Vivi sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.

Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.


JASA MULTY ORGASME 089675261863 

CERITA SEX - GIGOLO SEWAAN

Langsung aja, aku dl punya pacar namanya Hendra Setelah lama berpetualang dengan Hendra, aku perlu juga variasi bermain sex yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra untuk memanggil gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau memilih orangnya.
Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon jaringan gigolo, aku tidak mau lewat milist yang banyak menawarkan diri, karena dari pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak dengan stamina dan variasi permainan. Sesuai dengan kesepakatan dengan seorang GM, akhirnya dia akan mengirim 3 orang untuk kami pilih di tempat kami menginap, uang bukanlah masalah bagi kami.
Pada hari yang sudah ditetapkan, kami check in di Hotel Sahid. Tidak lama kemudian datanglah sang GM dengan membawa 3 anak muda ganteng dan macho, mungkin dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis dan tampan, tapi satu sudah out karena terlalu pendek, sedangkan dua lainnya mampunyai tinggi paling tidak sama denganku, yang menjadi masalah bagiku adalah memilih di antaranya.
Terus terang agak nervous juga aku, karena belum pernah aku membayar untuk urusan sex. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku menyuruh mereka bertiga untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya mau juga setelah kupancing dengan membuka baju atasku hingga terlihat bra merahku. Dari pandangan matanya aku tahu bahwa mereka tertarik denganku, bahkan tanpa dibayar pun aku yakin mereka mau melakukannya. Kupikir hanya orang gila saja yang tidak tertarik dengan postur tubuhku yang putih seperti Cina, tinggi semampai, sexy, dan wajah cantik, paling tidak itulah yang sering dikatakan laki-laki.
“Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang buah dadaku ini sebelum pergi asal mau telanjang di depanku sekarang.” kataku menggoda, dengan demikian aku dapat melihat kejantanan mereka saat tegang, itulah yang menjadi pertimbanganku.
Serempak mereka melepas pakaiannya secara bersamaan, telanjang di depanku. Hasilnya cukup mengejutkanku, ternyata disamping memiliki tubuh yang atletis, ternyata mereka mempunyai alat kejantanan yang mengagumkan, aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang kejantanan mereka hampir sama, tapi besar diameter dan bentuk kejantanan itu yang berbeda, kalau tidak ‘malu’ dengan Hendra mungkin kupilih keduanya langsung.
Pandanganku tertuju pada yang di ujung, alat kejantanannya yang besar, aku membayangkan mungkin mulutku tidak akan cukup untuk mengulumnya, hingga akhirnya kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.” kataku mengakhiri masa pemilihan.
Setelah pilihan diambil, maka dua lainnya segera berpakaian dan menghampiri aku yang masih tidak berbaju. Mula-mula si pendek mendekatiku dan memelukku, tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya meremas lembut buah dadaku, lalu wajahnya dibenamkan ke dadaku, diusap-usap sejenak sambil tetap meremas-remas menikmati kenyalnya buah dadaku, lalu dia pergi. Berikutnya langsung meremas-remas buah dadaku, jari tangannya menyelinap di balik bra, mempermainkan sejenak sambil mencium pipiku.
“Mbak mempunyai buah dada dan puting yang bagus.” bisiknya, kemudian dia pergi, hingga tinggal kami bertiga di kamar, aku, Rio dan Hendra yang dari tadi hanya memperhatikan, tidak ada komentar dari dia kalau setuju atas pilihanku.
“Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!” kataku, sebenarnya agak ragu juga bagaimana untuk memulainya.
“Ayo Tante, entar Rio mandiin.” jawabnya.
“Emang aku udah Tante-Tante..?” jawabku ketus, “Panggil aku Lily.” lanjutku sambil menuju kamar mandi, meninggalkan Hendra sendirian.
Sesampai di kamar mandi, Rio langsung mencium tengkukku, membuatku merinding. Dipeluknya aku dari belakang sambil ciumannya berlanjut ke belakang telingaku hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang masih terbungkus bra merahku.
“Rio, kamu nakal..!” desahku sambil tanganku meraba ke belakang mencari pegangan di antara kedua kaki Rio yang masih telanjang.
“Abis Mbak menggoda terus sih,” bisiknya disela-sela ciumannya di telinga.
Tangannya diturunkan ke celana jeans-ku, tanpa menghentikan ciumannya, dia membuka celana jeans-ku, hingga sekarang aku tingal bikini merahku. Ciumannya sudah sampai di pundak, dengan gigitan lembut diturunkan tali bra-ku hingga turun ke lengan, begitu pula yang satunya, sepertinya dia sudah terlatih untuk menelanjangi wanita dengan erotis dan perlahan, semakin perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya makin terbakar birahi.
Rio mendudukkan tubuhku di meja toilet kamar mandi, dia berlutut di depanku, dicium dan dijilatinya betis hingga paha. Perlahan dia menarik turun celana dalam merah hingga terlepas dari tempatnya, jilatan Rio sungguh lain dari yang pernah kualami, begitu sensual, entah pakai metode apa hingga aku dibuat kelojotan. Kepalanya sudah membenam di antara kedua pahaku, tapi aku belum merasakan sentuhan pada daerah kewanitaanku, hanya kurasakan jilatan di sekitar selangkangan dan daerah anus, aku dibuat semakin kelojotan.
Sepintas kulihat Hendra berdiri di pintu kamar mandi melihat bagaimana Rio menservisku, tapi tidak kuperhatikan lebih lanjut karena jilatan Rio semakin ganas di daerah kewanitaanku, hingga kurasakan jilatan di bibir vaginaku. Lidahnya terasa menari-nari di pintu kenikmatan itu, kupegang kepalanya dan kubenamkan lebih dalam ke vaginaku, entah dia dapat bernapas atau tidak aku tidak perduli, aku ingin mendapat kenikmatan yang lebih. Jilatan lidah Rio sudah mencapai vaginaku, permainan lidahnya memang tiada duanya, saat ini the best dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan suamiku yang selalu kubanggakan permainan sex-nya.
Rio berdiri di hadapanku, kejantanannya yang besar dan tegang hanya berjarak beberapa centimeter dari vaginaku. Sebenarnya aku sudah siap, tapi lagi-lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium mulutku dan untuk kesekian kalinya kurasakan permainan lidahnya di mulutku terasa meledakkan birahiku, sementara jari tangannya sudah bermain di liang kenikmatanku menggantikan tugas lidahnya. Aku tidak mau melepaskan ciumannya, benar-benar kunikmati saat itu, seperti anak SMU yang baru pertama kali berciuman, tapi kali ini jauh lebih menggairahkan.
Ciuman Rio berpindah ke leherku, terus turun menyusuri dada hingga belahan dadaku. Dengan sekali sentil di kaitan belakang, terlepaslah bra merah dari tubuhku, membuatku telanjang di depannya. Aku siap menerima permainan lidah Rio di buah dadaku, terutama kunantikan permainan di putingku yang sudah mengencang. Dan aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk itu, kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula kurasakan sensasi-sensasi baru dari permainan lidah. Aku benar-benar dibuat terbakar, napasku sudah tidak karuan, kombinasi antara permainan lidah di puting dan permainan jari di vaginaku terlalu berlebihan bagiku, aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, ingin meledak rasanya.
“Rio, pleassee, sekarang ya..!” pintaku sambil mendorong tubuh atletisnya.
“Pake kondom Mbak..?” tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala kejantanannya di bibir vaginaku yang sudah basah, sah, sah, sah.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, biasanya aku tidak pernah pakai kondom, tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo, aku harus berhati-hati, meskipun dengan lainnya belum tentu lebih baik. Kalau seandainya dia langsung memasukkan kejantannya ke vaginaku, aku tidak akan keberatan, tapi dengan pertanyaan ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah Hendra yang dari tadi memperhatikan, tapi tidak kudapat jawaban dari dia.
Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka tanpa menjawab, kutarik tubuhnya dan dia mengerti isyaratku. Perlahan didorongnya kejantanannya yang sebesar pisang Ambon itu masuk ke liang kenikmatanku, vaginaku terasa melar. Makin dalam batang kejantanannya masuk kurasakan seolah makin membesar, vaginaku terasa penuh ketika Rio melesakkan seluruhnya ke dalam.
“Aagh.. yess.. ennak Sayang..!” bisikku sambil memandang ke wajah Rio yang ganteng dan macho, expresinya dingin, tapi aku tahu dia begitu menikmatinya.
“Pelan ya Sayang..!” pintaku sambil mencengkeramkan otot vaginaku pada kejantanannya.
Kulihat wajaah Rio menegang, tangan kanannya meremas buah dadaku sedang tangan kirinya meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku.
Kurasakan kejantanan Rio pelan-pelan ditarik keluar, dan dimasukkan lagi saat setengah batangnya keluar, begitu seterusnya, makin lama makin cepat.
“Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it..!” desahku, menerima kocokan kejantanan Rio di vaginaku.
Rio dengan irama yang teratur memompa vaginaku, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku, desahanku semakin berisik terdengar. Rio mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan di pundaknya, kurasakan penetrasinya semakin dalam di vaginaku, menyentuh relung vagina yang paling dalam. Kocokan Rio semakin cepat dan keras, diselingi goyangan pantat menambah sensasi yang kurasakan.
“Sshhit.., fuck me like a dog..!” desahanku sudah ngaco, keringat sudah membasahi tubuhku, begitu juga dengan Rio, menambah pesona sexy pada tubuhnya.
Aku hampir mencapai puncak kenikmatan ketika Rio menghentikan kocokannya, dan memintaku untuk berdiri, tentu saja aku sedikit kecewa, tapi aku percaya kalau dia akan memberikan yang terbaik.
“Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?” tanyanya terus menjilati putingku.
Tanpa menjawab aku langsung membelakanginya dan kubungkukkan badanku, rupanya dia sudah tahu mauku, langsung mengarahkan kejantanannya ke vaginaku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya, sehingga kejantanannya dapat masuk dengan mudah. Dengan sedikit bimbingan, melesaklah batang kejantanan itu ke vaginaku, dan Rio langsung menyodok dengan keras, terasa sampai menyentuh dinding dalam batas terakhir vaginaku, terdongak aku dibuatnya karena kaget.
“Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa..!” teriakku larut dalam kenikmatan.
Sodokan demi sodokan kunikmati, Rio menurunkan kakiku, dan kurentangkan lebar sambil tanganku tertumpu pada meja toilet, tangan Rio memegang pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu seterusnya. Rasanya sudah tidak tahan lagi, ketika tangan Rio meremas buah dadaku dan mempermainkan putingku dengan jari tangannya, sensasinya terlalu berlebihan, apalagi keberadaan Hendra yang dengan setia menyaksikan pertunjukan kami sambil memegang kejantanannya sendiri.
“Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!” desahku, ternyata Rio langsung menghentikan gerakannya.
“Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat.” katanya, tapi terlambat, aku sudah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu.
“Aaughh.., yess.., yess..!” teriakku mengiringi orgasme yang kualami, denyutan di vaginaku terasa terganjal begitu besar.
Rio hanya mendesah sesaat sambil tangannya tetap meremas buah dadaku yang ikut menegang.
“Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!” pintaku memelas karena lemas.
Rio mengambil handuk dan ditaruhnya di lantai, lalu dia memintaku berlutut, rupanya Rio menginginkan doggie style, kuturuti permintaannya. Sekarang posisiku merangkak di lantai dengan lututku beralaskan tumpukan handuk, menghadap ke pintu ke arah Hendra.
Rio mendatangiku dari belakang, mengatur posisinya untuk memudahkan penetrasi ke vaginaku. Setelah menyapukan kejantanannya yang masih menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke vaginaku. Meskipun sudah berulang kali terkocok oleh kejantanannya, tidak urung terkaget juga aku dibuatnya. Rio langsung memacu kocokannya dengan cepat seperti piston mobil dengan silindernya pada putaran di atas 3000 rpm, kenikmatan langsung menyelimuti tubuhku.
Rio menarik rambutku ke belakang sehingga aku terdongak tepat mengarah ke Hendra. Berpegangan pada rambutku Rio mempermainkan kocokannya, sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik, sehingga vaginaku seperti diaduk-aduk kejantanannya. Dia sungguh pandai menyenangkan hati wanita karena permainannya yang penuh variasi dan diluar dugaan.
Tiba-tiba kudengar teriakan dari Hendra, tepat ketika aku mendongak ke arah dia, menyemprotlah sperma dia dari tempatnya dan tepat mengenai wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami, dia mengocok sendiri kejantanannya alias self service. Rio mengangkat badannya tanpa melepas kejantanannya dariku, kini posisi dia menungging, sehingga kejantanannya makin menancap di vaginaku tanpa menurunkan tempo permainannya. Aku sudah tidak tahan diperlakukan demikian, dan untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat, sementara Rio masih tetap tegar menantang.
“Masih kuat untuk melanjutkan Mbak..?” tantang dia.
Kalau seandainya dia tidak bertanya seperti itu aku pasti minta waktu istirahat dulu, tapi dengan pertanyaan itu, aku merasa tertantang untuk adu kuat, dan tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban, kukeluarkan kejantanannya dari tubuhku, kuminta dia rebah di lantai kamar mandi beralas handuk, aku juga ingin ngerjain dia, pikirku.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, begitu dia telentang, kukangkangkan kakiku di wajahnya hingga dia dapat merasakan cairan orgasme yang meleleh dari vaginaku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia malah dengan senang hati menghisap vaginaku hingga terasa kering dan kembali mempermainkan lidah mautnya di vaginaku.
Agak kesulitan juga aku ber-hula hop karena terasa kejantanannya yang besar mengganjal di dalam dan mengganggu gerakanku. Semakin kupaksakan semakin nikmat rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan itu semakin bertambah, maka hula hop-ku semakin cepat dan tambah tidak beraturan. Kuamati wajah Rio yang ganteng bersimbah peluh dan terlihat menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-remas buah dadaku dengan liarnya sambil mempermainkan putingku.
Hampir saja aku orgasme lagi kalau tidak segera kuhentikan gerakanku, tapi ternyata Rio tidak mau berhenti. Ketika aku menghentikan gerakanku, ternyata justru dia menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga vaginaku tetap terkocok dari bawah, dan kembali orgasmeku tidak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.
Rio tetap saja mengocok, meski dia tahu aku sedang di puncak kenikmatan birahi. Kali ini aku benar-benar lemes mes mes, tapi Rio tidak juga mengentikan gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga kami saling berpelukan. Dinginnya AC tidak mampu mengusir panasnya permainan kami, peluh kami sudah menyatu dalam kenikmatan nafsu birahi. Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali mempermainkan lidahnya, kejantanannya masih keras bercokol di vaginaku, terasa panas sudah, atau mungkin lecet.
Tidak lama kemudian nafsuku bangkit lagi, kuatur posisi kakiku hingga aku dapat menaik-turunkan tubuhku supaya kejantanan Rio bisa sliding lagi. Meskipun kakiku terasa lemas, kupaksakan untuk men-sliding kejantanan Rio yang sepertinya makin lama makin mengeras. Melihatku sudah kecapean, Rio memintaku untuk masuk ke bathtub dan kuturuti keinginannya supaya aku kembali ke posisi doggie. Sebelum memasukkan kejantanannya, Rio membuka kran air hingga keluarlah air dingin dari shower di atas, kemudian dengan mudahnya dia melesakkan kejantanannya ke vaginaku untuk kesekian kalinya.
Bercinta di bawah guyuran air shower membuat tubuhku segar kembali, sepertinya dia dapat membaca kemauan lawan mainnya, kali ini kocokannya bervariasi antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa staminaku agak pulih, kuimbangi gerakan sodokan Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan atau maju mundur melawan gerakan tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan cengkeraman tangan Rio di pantatku mengencang, kurasakan kejantanan Rio terasa membesar dan diikuti semprotan dan denyutan yang begitu kuat dari kejantanan Rio.
Vaginaku terasa dihantam kuat oleh gelombang air bah, denyutan dan semprotan itu begitu kuat hingga aku terbawa melambung mencapai puncak kenikmatan yang ke sekian kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya, tubuhku langsung terkulai di bathtub. Kucuran air kurasakan begitu sejuk menerpa tubuhku yang masih berpeluh. Rio mengambil sabun dan menyabuni punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia memperlakukan aku seperti layaknya seorang lady hingga aku selesai mandi.
Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi menuju ranjang untuk beristirahat. Kulihat Hendra sudah mengenakan piyama dan duduk di sofa memperhatikanku keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Hendra tidak dapat kutebak, tapi tiada terlihat sinar kemarahan atau cemburu melihat bagaimana aku bercinta dengan Rio di kamar mandi selama lebih dari satu jam. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku sudah terlalu berat untuk terbuka, masih kudengar sayup-sayup pembicaraan Hendra sebelum aku terlelap dalam tidurku.
“Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih dahulu, bahkan setelah bermain dengan dua orang.” kata Hendra ketika Rio keluar dari kamar mandi.
“Ah biasa saja Om.” jawab Rio kalem merendah.
“Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?” lanjut Rio.
“Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai, uang kamu ada di sebelah TV dan kamu boleh pergi.” kata Hendra.
“Om, boleh saya usul..?”
“Silakan..!”
“Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai pagi, biarlah nggak usah ada tambahan bayar overtime, aku jamin dia pasti lebih dari puas.” usul Rio.
“Cilaka..,” pikirku.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Hendra karena sudah terlelap dalam tidur indah.
Entah sudah berapa lama tertidur ketika kurasakan sesuati menggelitik vaginaku. Sambil membuka mata yang masih berat, kulihat kepala sudah terbenam di selangkanganku yang telah tebuka lebar. Ah, Rio mulai lagi, pikirku. Ketika aku menoleh ke sofa mencari Hendra, kulihat dia telanjang duduk di samping Rio yang juga telanjang sambil tersenyum ke arahku. Jadi siapa yang bermain di vaginaku saat ini, terkaget aku dibuatnya. Langsung duduk kutarik rambutnya dan ternyata si Andre, teman Rio yang kusuruh pulang bersama si pendek tadi.
Sebenarnya dia tidak terpilih bukan karena aku tidak tertarik, tapi aku harus memutuskan satu di antara dua yang baik.
“What the hell going on here..?” pikirku, tapi tidak sempat terucap karena permainan lidahnya sungguh menggetarkan naluri kewanitaanku.
Kubiarkan Andre bermain di selangkanganku dan kunikmati permainan lidahnya, meskipun tidak sepintar Rio, tapi masih membuatku menggelinjang-gelinjang kenikmatan.
“Ugh.., shh..!” aku mulai mendesis.
Kubenamkan kepala Andre lebih dalam untuk mendapatkan kenikmatan lebih jauh. Andre menjilatiku dengan hebatnya hingga beberapa saat sampai kulihat Rio berdiri dari tempatnya dan menghampiri Andre. Diangkatnya kakiku hingga terpentang dan Rio mengganjal pantatku dengan bantal hingga posisi vaginaku sekarang menantang ke atas.
Rio mengganti posisi Andre, menjilati vaginaku dengan mahirnya, kemudian mereka berganti posisi lagi. Cukup lama juga Rio dan Andre menjilati vaginaku secara simultan. Sensasinya sungguh luar biasa hingga aku larut dalam kenikmatan. Jilatan Andre sudah berpindah ke daerah anusku, ketika Rio menjilati pahaku terus naik dan berhenti untuk bermain di daerah vaginaku.
“Aahh.., gilaa.., aagh.., shit.. yess..!” aku terkaget, karena baru kali ini aku dijilati oleh dua laki-laki di daerah kewanitaanku.
Bayangkan dua lidah dengan satu di anus dan satunya di vagina. Keduanya begitu expert dalam permainan lidah. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan dengan kata-kata, sensasi ini terlalu berlebihan bagiku, bahkan terbayang pun tidak pernah.
Dengan penuh gairah mereka bermain di kedua lubangku, aku tidak tahu harus berkata apa selain mendesah dan menjerit dalam kenikmatan birahi. Aku mencari pegangan sebagai pelampiasan rasa histeriaku, tapi tidak kudapatkan hingga akhirnya kuremas-remas sendiri buah dadaku yang ikut menegang. Tidak tahan menahan sensasi yang berlebihan, akhirnya aku mencapai orgasme duluan. Orgasme tercepat selama hidupku, tidak sampai penetrasi dan tidak lebih dari 15 menit, suatu rekor yang tidak perlu dibanggakan.
Mulut Rio tidak pernah beranjak dari vaginaku, disedotnya vaginaku seperti layaknya vacum cleaner.
“Shit.. Rio.. stop.. stoop..! Please..!” pintaku menahan malu.
Lidah Rio naik menelusuri perutku dan berhenti di antara kedua bukit di dadaku, lalu mendaki hingga mencapai putingku. Dikulumnya lalu sambil meremas buah dadaku dia mulai mengulum dan mempermainkan putingnya dengan lidah mautnya.
Belum sempat kurasakan mautnya permainan lidah Rio, aku merasakan Andre telah menyapukan kejantanannya di bibir vaginaku sebentar dan langsung kejantanan Andre tanpa basa basi langsung melesak masuk ke vaginaku. Kurasakan ada perbedaan rasa dengan Rio karena bentuknya memang berbeda. Punya Rio besar dan melengkung ke kiri bawah, agak unik, sedangkan Andre kecil panjang melengkung lurus ke atas, jadi disini kurasakan dua rasa.
Gila, kalau tadi siang kurasakan punya Rio yang banyak menggesek bagian kananku, sekarang kurasakan bagian atas vagina menerima sensasi yang hebat, karena kejantanan Andre mempunyai kepala yang besar, menyodok-nyodok dinding vaginaku. Kedua kakiku dipentangkan dengan lebar oleh Andre, Rio bertambah gairan bergerilya menjelajahi kedua bukit dan menikmati kenyalnya bukit dan putingku yang makin menegang. Tangannya tidak henti meremas dan mengelus kedua bukit di dadaku, sesekali wajahnya dibenamkan di antara kedua bukitku seperti orang gemas.
Andre makin kencang mengocok vaginaku sambil menjilati jari-jari kakiku. Aku menggelinjang makin tidak karuan diperlakukan kedua anak muda ini. Kocokan dan remasan tanganku di kejantanan Rio makin keras mengimbangi permainan mereka.
“Uugghh.. sshh.. kalian.. me.., me..mang gilaa..!” teriakku.
Permainan mereka semakin ganas mengerjaiku.
Kutarik tubuh Rio ke atas, kini Rio sudah berlutut di samping kepalaku, kejantanannya yang tegang tepat ke arah wajahku. Segera kulahap kejantanannya, sekarang aku mau mengulumnya karena kejantanan itu terakhir kali masuk di vaginaku, tidak seperti saat pertama tadi, entah dengan siapa sebelum aku. Seperti dugaanku, mulutku ternyata tidak dapat mengulum masuk semua batang kejantanannya, terlalu besar untuk mulut mungilku.
Rio sekarang mengangkangiku, kepalaku di antara kedua kakinya, sementara kejantanannya kembali tertanam di mulutku. Dikocok-kocoknya mulutku dengan penis besarnya seolah berusaha menanamkan semuanya ke dalam, tapi tetap tidak bisa, it’s too big to my nice mouth, very hard blowjob. Kurasakan kenikmatan yang memuncak, dan kembali aku mengalami orgasme beberapa saat kemudian.
“Mmgghh.. mmgh.. uugh..!” teriakku tertahan karena terhalang kejantanan Rio, masih untung tidak tergigit saat aku orgasme.
Tanpa memberiku istirahat, mereka membalikkan tubuhku, kini aku tertumpu pada lutut dan tanganku, doggy style. Andre tetap bertugas di belakang sementara Rio duduk berselonjor di hadapanku. Seperti sebelumnya, Andre langsung tancap gas mengocokku dengan cepat, kurasakan kejantanannya makin dalam melesak ke dalam vaginaku, pinggangku dipegangnya dan gerakkan berlawanan dengan arah kocokannya, sehingga makin masuk ke dalam di vaginaku. Antara sakit dan nikmat sudah sulit dibedakan, dan aku tidak sempat berpikir lebih lama ketika Rio menyodorkan kejantanannya di mulutku kembali.
Kedua lubang tubuhku kini terisi dan kurasakan sensasi yang luar biasa. Dengan terus mengocok, Andre mengelus-elus punggungku, kemudian tangannya menjelajah ke dadaku, dielus dan diremasnya dengan keras keduanya sesekali mempermainkan putingku, kegelian dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Tidak ketinggalan Rio memegang rambutku, didorongnya supaya kejantanannya dapat masuk lebih dalam di mulutku.
“Emmhh.., mhh..!” desahku sudah tidak keluar lagi, terlalu sibuk dengan kejantanan Rio di mulutku.
Kugoyang-goyangkan badanku, pantatku bergerak berlawanan gerakan Andre dan kepalaku turun naik dengan cepat mengocok Rio.
Tidak lama kemudian, “Shit.., aku mau keluar..!” teriak Rio sambil menarik kepalaku ke atas, tapi aku tidak perduli, malah kupercepat kocokan mulutku hingga menyemprotlah sperma Rio dengan deras ke mulutku, semprotannya cukup kencang hingga langsung masuk ke tenggorokanku.
Tanpa ragu lagi kutelan sperma yang ada di mulutku, Rio mengusap sisa sperma di bibir yang tidak tertampung di mulutku.
Kulihat senyum puas di wajah Rio, lalu dia bergeser ke samping, ternyata Hendra sudah berada di samping ranjang, dia kemudian mengganti posisi Rio berselonjor di hadapanku. Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kukulum kejantanan dia yang basah, kurasakan aroma sperma, sepertinya dia habis berejakulasi melihat permainan kami bertiga. Karena ukuran kejantanan Hendra tidak sebesar punya Rio, maka dengan mudah aku melahap semua hingga habis sampai ke pangkal batangnya, dan segera mengocok keluar masuk.
Andre mendorong tubuhku hingga telungkup di ranjang, entah bagaimana posisi dia dengan tubuhku telungkup, dia tetap mengocok vaginaku dengan ganasnya. Hendra hanya dapat mengelus rambutku dan mempermainkan buah dadaku dari bawah. Tidak lama kemudian Andre mencabut kejantanannya, dan langsung berbaring di sebelahku. Aku mengerti maksudnya, sebenarnya harusnya aku yang mengatur dia bukan sebaliknya, tapi toh kuturuti juga.
Kutinggalkan Hendra dan aku menaiki tubuh Andre, kejantanannya masih menegang ke atas, kuatur tubuhku hingga vaginaku pas dengan kejantanannya yang sudah menunggu, lalu kuturunkan pantatku dan bles. Langsung saja aku bergoyang salsa di atasnya. Kini aku pegang kendali, pantatku kuputar-putar sehingga vaginaku terasa diaduk-aduk olehnya. Andre memegangi kedua buah dadaku dan meremasnya. Hendra berdiri di atas ranjang dan menghampiriku, dia menyodorkan kembali kejantanannya, kubalas dengan jilatan dan kuluman.
Ternyata Rio yang sudah recovery tidak mau ketinggalan, dia berdiri di sisi lainnya dan menyodorkan kejantanannya ke arahku. Kini tanganku memegang dua penis yang berbeda, baik dari ukuran, bentuk dan kekerasannya, belum lagi yang tertanam di vaginaku, aku sedang menikmati tiga macam penis sekarang. Kupermainkan Rio dan Hendra secara bergantian di mulutku antara kuluman dan kocokan tangan. Pantatku tidak pernah berhenti bergoyang di atas Andre, sungguh suatu sensasi dan kenikmatan yang sangat berlebihan dan rasanya tidak semua orang dapat menikmatinya.
Beruntungkah aku..? Entahlah, yang jelas sekarang aku sedang melambung dalam lautan kenikmatan birahi tertinggi. Entah sudah berapa banyak cairan vaginaku terkuras keluar. Andre belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan orgasme. Aku mengganti gerakanku, kini turun naik sliding di atasnya, kulepas tangan kiriku dari penis Rio dan kuelus kantong pelir Andre untuk menambah rangsangan padanya. Ternyata Andre melawan gerakanku dengan menaik-turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga kejantanannya makin menancap dalam, tangannya tidak pernah melepas remasannya dari buah dadaku.
Rio bergerak ke belakangku, dielusnya punggungku dan elusannya berhenti di lubang anusku. Dengan ludahnya dia mengolesi lubang itu dan mencoba memasukkan jarinya ke dalam, sesaat terlintas di benakku bahwa dia mau anal, berarti double penetration. Aku belum siap untuk itu, tidak seorang pun kecuali suamiku yang mendapatkan anal dariku. Kuangkat tangannya dari anusku, pertanda penolakan dan dia mengerti. Rio berlutut di belakangku, didekapnya tubuhku dari belakang dan tangannya ikut meremas-remas buah dadaku. Sambil menciumi tengkuk dan telingaku, kejantanannya menempel hangat di pantatku, kini dua pasang tangan di kedua buah dadaku.
Karena didekap dari belakang aku tidak dapat bergerak dengan leluasa, akibatnya Andre lebih bebas mengocok vaginaku dari bawah. Aku sudah tidak dapat mengontrol tubuhku lagi, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, padahal masih dengan Andre. Ada dua lagi penis menunggu giliran menikmati vaginaku, Rio dan Hendra, suamiku.
Tidak lama setelah mengocokku dari bawah, kurasakan badan Andre yang menegang kemudian disusul denyutan keras di vaginaku. Begitu keras dan deras semprotan spermanya hingga aku tersentak kaget menerima sensasi itu hingga aku menyusul orgasme sesaat setelahnya. Begitu nikmat dan nikmat, untung aku sempat mengeluarkan kejantanan Hendra dari mulutku sesaat setelah kurasakan semburan Andre, kalau tidak hampir pasti dia akan tergigit saat aku mengikuti orgasme. Tubuhku langsung melemas, aku langsung terkulai di atas tubuh Andre. Rio sudah melepas dekapannya dan Hendra duduk di samping Andre, sepertinya mereka menunggu giliran.
Napasku sudah ngos-ngosan, aku dapat merasakan degup jantung Andre yang masih kencang, keringat kami sudah bercampur menjadi satu. Kejantanan Andre masih tertanam di vaginaku meskipun sudah melemas hingga akhirnya keluar dengan sendirinya. Rio menawariku lippovitan, penambah energi. Setelah aku berbaring di samping Andre, berarti dia sudah bersiap untuk bertempur denganku, segera kuhabiskan minuman itu, kesegaran memasuki di tubuhku tidak lama kemudian.
“Gila kamu Ndre, ternyata tak kalah dengan Rio.” komentarku.
“Ah biasa Mbak, kita udah biasa kerjasama kok.” jawabnya.
“Makanya kompak kan Mbak, dan Mbak termasuk hebat bisa melayani kami sendiri-sendiri dalam satu hari, dan barusan adalah satu jam 17 menit.” Rio menimpali.
“Biasanya kami langsung main bertiga, dan itu tidak lebih lama daripada sendiri-sendiri, paling lama setengah jam sudah KO.” kembali Andre menambahi.
Aku ke kamar mandi supaya badan segar, kuguyurkan air hangat di sekujur tubuhku, kusiram rambutku yang tidak karuan bercampur bau sperma. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam ketika aku keluar dari kamar mandi. Kulihat mereka duduk di sofa, Rio dan Andre di sofa panjang sementara Hendra di sofa satunya, masih bertelanjang. Ketika aku datang hanya berbalut handuk, ranjang sudah dirapikan, entah apa rencana mereka, pikirku. Persetan yang penting aku dapat menikmati dan kuikuti permainannya.
Rupanya aku terlalu lama dan asyik mandi hingga tidak tahu kalau makanan datang dan sudah tersaji di meja. Aku merasa lapar, maklum habis selesai dengan Rio disambung sama Andre dan aku belum makan sejak tadi siang. Aku duduk di antara Rio dan Andre, yang kemudian disambut tarikan handuk pembalut tubuhku oleh Rio hingga terlepas. Keduanya langsung mencium pipiku kiri kanan dan kusambut remasan di kejantanan mereka yang agak menegang.
“Makan dulu yuk..!” ajakku langsung ke meja.
Kami berempat bertelanjang makan bersama sambil bercerita pengalaman mereka. Aku tidak berani makan terlalu banyak, takut kalau terlalu banyak bergoyang jadi sakit perut, yang penting tidak lapar dan dapat menambah energi nanti, sepertinya mereka melakukan hal yang sama.
Setelah istirahat selesai makan, kembali aku duduk di antara dua anak muda itu. Kali ini mereka langsung mencium leherku di kiri dan kanan sambil meremas-remas dadaku masing-masing satu. Hendra berdiri ke arah kami, dia meminta Rio berpindah tempat, dan dia langsung melakukan hal yang sama, menciumi leherku dan terus turun ke dada, sekarang Andre dan Hendra mengulum putingku di kiri dan kanan.
Rio tidak mau jadi penonton, dia langsung bejongkok di antara kakiku, melebarkannya dan lidahnya mulai menjelajah di vaginaku. Mungkin dia masih mencium aroma sperma Andre karena memang tidak kubersihkan, tapi dia tidak perduli, jilatan demi jilatan menjelajah di vaginaku, dipermainkannya vaginaku dengan lidah dan jari tangannya. Kenikmatan mulai kurasakan, foreplay dengan 3 orang sekaligus, akan mempercepat perjalanan menuju puncak kenikmatan birahi.
Dengan kemahiran permainan lidah Rio, aku sudah terbakar birahi, kepalanya kujepit dengan kedua kakiku supaya lebih merapat di selangkanganku. Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi, layu sebelum birahi.
“Sshh.., Rio masukin Sayang.., sekarang..!” pintaku di sela kuluman Andre dan Hendra di dadaku.
Tanpa menunggu kedua kalinya, Rio segera bangkit dan menyapukan kepala kejantanannya ke vaginaku, ternyata Andre mengikuti Rio, dia stand by di sampingnya sambil mementangkan kakiku lebar. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Rio langsung mengocokku cepat dan keras, aku langsung menggeliat kaget, tapi segera mulutku dibungkam dengan ciuman bibir oleh Hendra. Andre sambil memegangi kakiku, dia menjilati kedua jari kakiku secara bergantian. Aku ingin menjerit dalam kenikmatan tapi tidak dapat karena lidah Hendra masih menikmati bibirku.
Kocokan Rio bertambah cepat, iramanya susah ditebak karena terlalu banyak improvisasi, aku kewalahan mengikuti iramanya, disamping memang dia expert mempermainkan iramanya, dilain sisi aku juga sibuk menghadapi dua orang lainnya. Hendra minta aku mengulum kejantanannya, maka kusingkirkan Rio dari vaginaku, aku langsung jongkok di depan dia yang duduk di sofa, langsung mengulum penisnya yang sudah tegang.
Rio tidak mau menunggu lebih lama, dengan doggy style dia mulai memasuki vaginaku. Sodokan awal perlahan, tapi selanjutnya makin keras dan cepat. Andre, aku tidak tahu dimana posisi dia, tapi yang kutahu dia stand by di samping Rio. Kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti irama Rio, makin lama makin terasa nikmatnya, cukup lama dia mengocokku dengan berbagai variasi gerakan hingga ketika puncak kenikmatan hampir kurengkuh, tiba tiba dia mencabut kejantanannya. Aku mau protes, tapi ketika kutengok ke belakang ternyata Andre sudah bersiap menggantikan posisi Rio, dan sekali dorong tanpa menunggu reaksiku amblaslah kejantanannya ke vaginaku.
Sekali lagi kurasakan perbedaan sensasi dari keduanya. Entahlah aku tidak dapat menentukan mana yang lebih nikmat. Andre langsung menggoyang sambil mengocokku dengan iramanya sendiri. Saat Andre sedang memacuku dengan cepat, tiba-tiba Hendra menyemprotkan spermanya di mulutku, terkaget juga aku, karena terkonsentrasi pada kocokan Andre hingga kurang memperhatikan ke Hendra. Kujilati sisa sperma di kejantanan dia yang tidak terlalu banyak.
Ternyata Rio sudah mengganti posisi Andre, kemudian mereka berganti lagi begitu seterusnya entah sudah berapa kali berganti menggilirku hingga aku sudah tidak dapat membedakan lagi apakah yang mengocok vaginaku Andre atau Rio, keduanya sama-sama nikmat. Mereka tidak memperdulikan sudah berapa kali puncak birahi sudah kurengkuh. Selama aku belum bilang stop, mereka akan terus memacuku ke puncak kenikmatan.
Entah sudah berapa lama dengan doggy style, lututku terasa capek. Aku merangkak naik ke sofa yang ditinggal Hendra, tetap dengan posisi doggy sofa mereka tidak memberiku kesempatan bernapas. Melayani satu Andre atau Rio saja aku sudah kewalahan, apalagi menghadapi mereka berdua secara bersamaan, dan mereka begitu kompak melayani birahiku. Berulang kali mereka mencoba memasukkan kejantanannya ke lubang anus, tapi selalu kutolak dan kutuntun kejantanannya kembali ke vaginaku.
Kunikmati sodokan demi sodokan dari belakang entah dari Rio atau Andre hingga tiba-tiba kurasakan perbedaan yang drastis, begitu kecil dan rasanya seperti hanya masuk separoh saja kocokannya. Aku menoleh kebelakang, ternyata Hendra ikut bergiliran dengan mereka. Ternyata mereka melakukan permainan. Ketika Hendra sedang mengocokku, Rio dan Andre mengundi siapa berikutnya, begitu juga ketika Rio menyodokku, Hendra dan Andre mengundi berikutnya, begitu seterusnya. Aku berharap supaya Hendra tidak pernah menang.
Waktu giliran ternyata ditentukan tidak lebih dari 3 menit untuk orang berikutnya, yang orgasme duluan harus merelakan diri jadi penonton. Entah sudah berapa lama berlangsung, lututku sudah lemas, tapi serangan dari belakang tidak menurun juga, aku heran juga ternyata Hendra dapat sedikit mengimbangi permainan Rio dan Andre. Dan benar dugaanku, tidak lama kemudian ketika si penis kecil sedang mengocokku, kurasakan denyutan-denyutan di dinding vaginaku dan kudengar teriakan Hendra pertanda dia orgasme. Kemudian kembali vaginaku berganti penghuni secara bergantian.
Mereka melakukannya dengan kompak, banyak lagi variasi yang dilakukan mereka kepadaku, baik di ranjang, di meja makan, sambil berdiri menghadap dinding, mereka lebih suka melakukan secara simultan. Ketika aku hampir menghentikan permainan, mereka memberi tanda supaya aku berjongkok di antara mereka dan dengan sedikit bantuan kuluman dan kocokan pada kejantanan mereka secara bergantian, akhirnya menyemprotlah sperma mereka secara hampir bersamaan. Semua memuncrat ke wajah, sebagaian masuk mulut hingga ke tubuhku. Aku sangat menikmati ketika semprotan demi semprotan menerpa wajah dan tubuhku, terasa begitu erotic.
Kami semua rebah di ranjang, jarum jam menunjukkan 01,30 dini hari, berarti sekitar dua jam bercinta dengan tiga orang sekaligus, sungguh permainan yang indah dan jauh memuaskan. Satu persatu tertidur kelelahan masih dalam keadaan telanjang.
Tidak lama mataku terpejam ketika kurasakan ciuman di mulutku, Andre yang sudah menindihku berbisik, “Boleh nggak aku minta lagi.” bisiknya pelan di telingaku.
Tanpa menjawab, kubuka kakiku dan dengan mudahnya dia memasukkan kejantanannya ke dalam. Dengan goyangan perlahan seperti menikmati, ternyata tidak lama dia sudah orgasme, ternyata bisa juga dia orgasme dengan cepat, mungkin 15 menit. Kemudian kami kembali tertidur.
Tidak lama kemudian kejadian tadi terulang lagi, kali ini dengan Rio. Dengan cepat pula dia menuntaskan hasratnya. Ketika kami semua terbangun pukul 10 pagi, rasanya aku belum lama tidur, Kulihat Hendra sudah memakai pakaian, sementara Rio dan Andre masih telanjang berbincang dengan Hendra.
“Pagi Sayang, bagaimana mimpi indahmu..?” tanyanya.
“Terlalu indah untuk sebuah mimpi.” jawabku yang langsung ke kamar mandi untuk berendam menghilangkan lelah.
Tidak lama kemudian ketika sedang asyik berendam, muncullah Rio dan Andre di pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci.
“Mau ditemenin mandi Mbak..?” tanya Andre.
“Pasti asyik kalau mandi bertiga.” sambung Rio.
Dan akhirnya sudah dapat diduga, kembali kami melakukan permainan sex bertiga, tapi kali ini dilakukan di kamar mandi, ternyata sensasinya berbeda dari tadi malam. Banyak juga aku belajar variasi baru. Bertiga di kamar mandi, baik itu di bathtub, shower ataupun di meja westafel kamar mandi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Cukup lama juga kami bercinta di kamar mandi hingga akhirnya Hendra mengingatkan kami waktu check out.
Pukul 12 siang kami sudah bersiap untuk check out. Ketika Rio dan Andre sedang berpakaian, ternyata Hendra memintaku sekali lagi untuk ‘quicky’. Dengan membuka pakaian seperlunya, kami kembali bercinta disaksikan kedua gigolo itu. Namanya saja quicky, maka tidak sampai sepuluh menit dia sudah menyemprotkan spermanya di vaginaku, dan segera memasukkan kembali kejantanannya di balik celananya dan tanpa membersihkan lebih lanjut. Aku menngenakan kembali celanaku yang merosot tadi, dan kami check out hotel secara bersama-sama, tidak lupa setelah menukar nomer HP masing-masing dengan kenangan yang indah.
Sejak saat itu aku sering meminta Rio ataupun Andre atau mereka berdua untuk menemaniku kalau aku lagi perlu penyegaran. Soal ‘bisnis’ dengan mereka sepertinya sudah tidak menjadi point utama lagi.


JASA MULTY ORGASME 089675261863 

CERITA SEX - SEGELINTIR CERITA SEORANG GIGOLO


DALAM kamar sebuah hotel melati di kawasan Surabaya Selatan, dua pemuda sedang asyik bermain catur. Seorang lainnya suntuk mengisi TTS (teka-teki silang). Tak berapa lama, pintu kamar mereka dibuka dari luar. Seorang pria berkumis dan bertubuh kekar datang dan menyapa mereka.
"Lho, para TKI ini ngapain masih di penampungan? Memangnya mau berangkat ke mana?" ujar pria berkumis itu kepada tiga pemuda ganteng yang sedang asyik mengisi waktu di kamar hotel tersebut.
Seperti kor, ketiga pemuda tersebut menjawab serentak, "Mau ke Malaysia, Bos. Tapi, tak dijemput-jemput sama tekong."
Selanjutnya, tawa mereka berderai bersamaan, tak terkecuali pria yang dipanggil bos itu.
Tentu, ketiga pemuda tersebut bukan TKI (tenaga kerja Indonesia) beneran. Mereka adalah para gigolo (pelacur laki-laki) yang sedang menanti pelanggan. Di komunitasnya, mereka menyebut diri sebagai "kucing" yang menunggu mangsa. Sudah sekitar lima tahun ini para "kucing" itu tinggal di kamar hotel tersebut. Lima tahun?
Ya. Itulah pengakuan Rudi (bukan nama sebenarnya, Red), bos para "kucing" tersebut, ketika ditemui Jawa Pos pekan lalu. "Benar, sudah sekitar lima tahun ini saya sewa dua kamar di hotel ini untuk operasional. Sekarang tarifnya Rp 80 ribu per kamar semalam," jelas muncikari sembilan gigolo itu.
Selain untuk tempat berteduh para gigolo -kebetulan seluruhnya berasal dari luar kota-, kamar hotel tersebut sekaligus menjadi tempat "eksekusi". Khususnya bagi pelanggan yang memilih kencan dalam kamar hotel itu. "Kalau tamu tidak mau mem-booking ke luar, ya pakai kamar ini untuk kencan," ungkap bapak tiga anak tersebut.
"Lebih praktis daripada harus mengontrak rumah. Lagi pula, pelanggan lama tahunya ya di sini. Ngapain harus pindah," ujarnya ketika ditanya alasan mengapa tidak mengontrak rumah yang notabene bisa lebih murah dibandingkan sewa kamar hotel.
Saat order sepi, para gigolo banyak mengisi waktu luang dalam kamar sambil bersenda-gurau. Mereka mengibaratkan situasi seperti itu bak TKI yang sedang menunggu diberangkatkan ke luar negeri. Tak heran, mereka langsung tertawa terbahak-bahak ketika bos Rudi menyapa dengan anekdot TKI.
Jumlah pelacur laki-laki di Surabaya tak sebanyak dibandingkan "populasi" mereka di Jakarta. Berdasar investigasi Jawa Pos, di kota ini, ada enam kelompok gigolo. Masing-masing kelompok beranggota 4-12 orang. Selain di hotel, ada yang mengontrak rumah atau "menebas" seluruh kamar kos-kosan untuk pangkalan mereka. Bahkan, ada dua kelompok yang tak mempunyai home base. "Kami hanya menerima panggilan ke luar. Kami tidak menyediakan tempat khusus," tegas Andri (juga nama samaran, Red) yang lebih suka disebut koordinator germo itu.
Selain beroperasi secara berkelompok, banyak "kucing" yang "berkeliaran" di jalan-jalan. Di kalangan komunitas gigolo, mereka biasa disebut "kucing garong". Paling banyak di Bantaran Kalimas, Jalan Pemuda. Di lokasi yang sering disebut sebagai "Pattaya" itu, ada belasan pria penjaja cinta yang mangkal.
Tarif para gigolo jalanan tersebut tak berbeda jauh dari yang mangkal di kamar hotel melati atau kos-kosan. Untuk pria jasa layanan quickie express yang mangkal di Pattaya, tarif short time paling mahal Rp 100 ribu.
"Bedanya, anak buah saya lebih bersih dan kondisi fisiknya terjaga. Karena itu, biasanya para tamu pun tidak enggan memberi tip yang tidak sedikit. Pernah anak buah saya mendapat tip Rp 5 juta," ungkap Rudi.
Sebagai bos, untuk setiap transaksi, dirinya mendapat "royalti" Rp 50 ribu. "Meski anak buah saya mendapat Rp 5 juta, setoran ke saya tetap Rp 50 ribu. Itu rezeki mereka. Mau dimakan sendiri, silakan. Mau dibagi-bagi, ya monggo," kata pria yang telah menekuni dunia prostitusi tersebut sejak enam tahun lalu itu.
Bagaimana tarif kelompok lain? "Ya, kalau tarif, umumnya tidak banyak berbeda. Yang beda pada tip yang diberikan pelanggan. Jarang ada yang memberi pas Rp 150 ribu," ujar Adi (nama samaran), koordinator kelompok gigolo yang mangkal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Surabaya Selatan.
Bagaimana dengan gigolo kelas atas? Rudi menggeleng. "Sepanjang pengetahuan saya, belum ada gigolo bertarif jutaan rupiah yang beroperasi di Surabaya. Kalau di Jakarta, banyak. Pangsa pasar di sini terbatas. Gigolo kelas atas bakal sulit cari makan di sini," jelasnya.
Meski relatif murah, bukan berarti kualitas gigolo kelas Rp 150 ribuan tersebut jelek-jelek. Menurut pengamatan Jawa Pos, para gigolo anak buah Rudi, misalnya, rata-rata berwajah tampan, berbadan atletis, dengan dandanan dandy.
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Rudi mengaku anak buahnya pernah diorder beberapa artis ibu kota yang singgah di Surabaya. Para seleb cowok itu, tampaknya, ingin merasakan "jajanan" khas Surabaya. "Samalah para artis itu dengan orang lain. Kadang mereka pengin jajan juga," tegas Rudi, kemudian menyebutkan nama-nama artis ibu kota yang pernah menggunakan jasa anak buahnya.
Fenomena lain bisnis haram tersebut, para customer yang membutuhkan jasa gigolo kebanyakan adalah kaum gay. "Di antara sepuluh tamu, paling banyak hanya tiga yang wanita," ujar Rudi mengandaikan segmen pasar anak buahnya.
Dia menyatakan, memang ada gigolo yang khusus menerima tamu wanita atau gay saja. "Namun, jumlahnya sedikit. Sebab, pasti tamunya juga sedikit. Umumnya, kami melayani keduanya," ungkapnya.
Rudi menegaskan, sejauh ini dirinya dan anak buahnya tetap mempunyai orientasi heteroseksual. "Normalnya, kami masih sangat tertarik pada wanita. Bahkan, kalau ada wanita cantik yang mau jasa kami, rasanya tidak dibayar pun tidak masalah," ujarnya kemudian tertawa.
Kalau normal, bagaimana bisa menjalankan aktivitas "jeruk makan jeruk"? Untuk yang satu itu, semua kelompok gigolo berterima kasih kepada sebuah merek obat berbentuk pil yang konon kedahsyatannya melebihi obat penambah nafsu yang ada. Pil itu biasa mereka beli di toko-toko obat Tiongkok tanpa resep dokter.
"Cukup menelan setengah butir saja, sejam kemudian sudah on. Tak peduli lawan kami laki-laki sekalipun," tegas Rudi yang mengaku selama mengonsumsi pil itu tak pernah mengalami efek samping apa pun.
Antok, salah seorang anak buah Rudi, mengungkapkan, berprofesi sebagai pemuas nafsu harus kuat mental dan tegaan. "Saya pernah melayani nenek-nenek. Kalau normal, tentu saja saya tidak mau. Tapi, mau bagaimana lagi, ini profesi," kata pemuda 26 tahun yang baru sebulan "berkarir" di Surabaya itu.
Apa motivasi para pemuda ganteng tersebut nyemplung ke dunia hitam itu? Semua kompak menyebut alasan klasik, yakni masalah ekonomi. "Kalau ada pekerjaan lain yang lebih baik, saya tak akan ragu-ragu pindah," tegas Rudi.
Pria 34 tahun tersebut lalu mencontohkan kisahnya. "Saya dulu penyanyi kafe," jelasnya.
Sayang, tempat dugem lebih suka mempekerjakan para penyanyi wanita. "Akhirnya, job saya sebagai penyanyi habis," katanya.
Kondisi itu sangat memusingkan kepalanya karena kebutuhan hidup semakin banyak. "Masak, susu anak mau diganti air tajin," ujarnya.
Setelah terombang-ambing dengan pekerjaan tak tentu, Rudi kemudian bertemu "mentor" gigolo di Bandung. "Saat itu, kami bertemu di wartel. Dia tampak sibuk dan banyak job. Lantaran tertarik, saya kemudian minta diajak bergabung," ungkapnya.
Awalnya, dirinya hanya diberi tahu bahwa Soni (nama mentor itu, Red) hanya seorang terapis pijat. Selama dua bulan, Rudi di-training Soni untuk bisa memijat. Setelah itu, Soni membawa Rudi ke Surabaya dan membuka jasa layanan pijat. Di Surabaya itulah Rudi kali pertama menjadi gigolo.
"Saya sampai stres dan tak mau makan selama seminggu ketika pertama melayani tamu laki-laki. Saya sampai terkena tifus," ungkapnya.
Hingga kini, keluarga Rudi sama sekali tidak tahu apa pekerjaan dirinya di Surabaya. Yang mereka tahu, Rudi bekerja sebagai bartender cukup sukses di Surabaya.
Alasan yang sama diucapkan Jaka, anak buah Rudi. Mahasiswa sebuah PTS di Bandung tersebut mengaku cuti satu semester ini demi mencari uang melalui jasa layanan gigolo. "Saya kerja ginian untuk cari uang kuliah saja. Buktinya, pendapatan saya selalu saya tabung di Bang Rudi," ujarnya.
Saat ini, Jaka sudah memiliki tabungan hingga Rp 5 jutaan. "Nanti saya ambil kalau saya mau kuliah lagi," tegasnya


JASA MULTY ORGASME 089675261863